FAO Peringatkan Ancaman Krisis Pangan Global Akibat Lonjakan Biaya Produksi

Kemenkop Gelar Pelatihan Koperasi untuk Perajin Tenun NTT
Kemenkop, Seruni, Mama-Mama Tenun, Koperasi NTT, LPDB, Kopdes Merah Putih

Faktamanado.id – Dunia kembali menghadapi ancaman inflasi pangan yang serius. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) melaporkan adanya kenaikan harga pangan global yang signifikan sepanjang Maret 2026. Fenomena ini dipicu oleh lonjakan biaya energi yang tak terkendali akibat eskalasi konflik di wilayah Teluk, yang berdampak langsung pada rantai pasok dan biaya produksi pertanian secara internasional.

Berdasarkan data yang dirilis pada Jumat (2/4/2026), indeks harga pangan dunia naik 2,4 persen secara bulanan. Lonjakan paling drastis terjadi pada komoditas minyak nabati yang meroket hingga 5,1 persen dibanding bulan sebelumnya. Harga minyak sawit kini berada di level tertinggi sejak 2022, melampaui harga minyak kedelai karena terdorong oleh transmisi kenaikan harga minyak mentah dunia.

Dampak Konflik Teluk pada Rantai Pasok

Eskalasi di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas distribusi komoditas utama. Biaya logistik dan input pertanian, seperti pupuk yang berbasis energi, ikut merangkak naik. Hal ini memaksa produsen menyesuaikan harga jual di tingkat global, yang pada akhirnya membebani konsumen akhir di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tidak hanya minyak, kelompok komoditas lain seperti sereal dan daging juga ikut terkerek naik. Melansir laporan terbaru pada Sabtu (3/4/2026), indeks harga daging dunia bahkan mencatatkan peningkatan sebesar 8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Tren Kenaikan di Seluruh Sektor Komoditas

Meskipun indeks produk susu masih tercatat lebih rendah secara tahunan, tren kenaikan bulanan yang terjadi di hampir seluruh sektor menunjukkan sinyal bahaya. FAO memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik yang berkelanjutan akan terus memberikan tekanan pada ketahanan pangan global jika tidak segera dilakukan mitigasi pada jalur distribusi energi.

Kenaikan harga ini mulai memukul daya beli masyarakat global secara luas. Para analis ekonomi memprediksi bahwa volatilitas pasar akan tetap tinggi sepanjang kuartal kedua tahun 2026, mengingat ketergantungan sektor pangan terhadap stabilitas harga energi dunia yang saat ini masih berada dalam zona merah akibat konflik bersenjata.

*(Drw)