Faktamanado.id — Awan mendung masih menyelimuti prospek pasar keuangan Asia, memaksa mayoritas mata uang regional tunduk pada keperkasaan dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,14 persen, tergelincir ke level Rp17.890 per dolar AS.
Dilansir dari CNBC yang dikutip dari rilis data Refinitiv pada perdagangan Selasa pagi, 2 Juni 2026 pukul 09.15 WIB, tujuh dari sembilan mata uang utama Asia mengalami tekanan depresiasi massal. Tren negatif ini membuat nilai tukar Rupiah semakin terdesak dan kian krusial lantaran nyaris menyentuh ambang batas level psikologis baru di angka Rp17.900 per dolar AS.
Tekanan Depresiasi Merata Menimpa Mata Uang Regional Asia
Tekanan nilai tukar ini terjadi secara merata di kawasan regional. Rincian performa nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar AS pada paruh perdagangan berjalan meliputi:
Dolar Taiwan: Mengalami depresiasi terdalam dengan terperosok 0,35 persen ke posisi TWD31,395/US$.
Dong Vietnam: Merosot 0,26 persen ke posisi VND26.334/US$.
Won Korea Selatan: Terkoreksi sebesar 0,21 persen ke posisi KRW1.516,4/US$.
Dolar Singapura: Susut sebesar 0,05 persen ke posisi SGD1,287/US$.
Yen Jepang: Turun tipis 0,03 persen ke posisi JPY159,7/US$.
Peso Filipina: Melemah minor 0,01 persen ke posisi PHP61,734/US$.
Anomali penguatan di zona hijau hanya dinikmati oleh baht Thailand yang melonjak naik 0,25 persen (THB32,57/US$) serta yuan China yang terapresiasi 0,03 persen (CNY6,7631/US$). Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau kokoh dengan kenaikan stabil 0,01 persen di posisi 99,208, menjaganya tetap bertengger kuat di atas level 99.
Faktor Eskalasi Geopolitik Global dan Sentimen Suku Bunga The Fed
Soliditas greenback ini didorong oleh tingginya permintaan aset aman (safe haven) akibat macetnya perundingan diplomatik antara AS dan Iran. Otoritas Teheran dilaporkan menunda jalur komunikasi dengan Washington imbas meluasnya ketegangan Israel di Lebanon, meskipun Donald Trump sempat menyebut potensi pembukaan Selat Hormuz bisa terwujud dalam sepekan.
Kondisi ketidakpastian geopolitik ini memicu ketakutan pasar atas ancaman inflasi energi global, yang dikhawatirkan dapat memaksa bank sentral AS (The Fed) untuk kembali mengetatkan kebijakan suku bunga acuan mereka. Saat ini, para investor di pasar Asia memilih untuk menahan diri (wait and see) sembari memantau rilis data lowongan kerja JOLTS serta laporan tenaga kerja AS yang dijadwalkan keluar pada Jumat esok.
*(Drw)











