Faktamanado.id — Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II dengan nilai investasi fantastis mencapai Rp116 triliun. Peresmian dipusatkan di Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu (29/4/2026) sebagai langkah strategis memutus ketergantungan impor dan memperkuat kedaulatan ekonomi melalui pengelolaan sumber daya alam mandiri.
Dalam pidato groundbreaking tersebut, Presiden menegaskan bahwa penguasaan sumber daya domestik adalah syarat mutlak bagi kemerdekaan hakiki. “Hilirisasi adalah satu-satunya jalan agar kita bisa lebih makmur,” tegas Presiden Prabowo.
Peta Jalan Hilirisasi Fase II: Energi hingga Agroindustri
Proyek-proyek strategis ini tersebar dari Riau hingga Papua dengan fokus pada empat sektor utama:
Sektor Energi: Pembangunan kilang gasoline di Dumai dan Cilacap untuk memangkas impor bensin 2 juta KL per tahun, serta penguatan distribusi energi di Timur Indonesia melalui tangki BBM di Palaran, Biak, dan Maumere.
Logam & Mineral: Fasilitas baja nirkarat di Morowali, slab baja karbon di Cilegon, dan manufaktur logam mulia di Gresik.
Material Konstruksi: Peningkatan pemanfaatan Aspal Buton di Karawang dengan target 300 ribu ton pada 2030.
Agroindustri: Hilirisasi sawit di Sei Mangkei serta pengolahan terpadu pala dan kelapa di Maluku Tengah.
Substitusi LPG: Fasilitas pengolahan batu bara menjadi DME di Tanjung Enim untuk mengurangi ketergantungan impor LPG nasional yang mencapai 80 persen.
Keselamatan Publik: Rp4 Triliun untuk Perlintasan Kereta
Di samping agenda industrialisasi, pemerintah memberikan perhatian khusus pada aspek keselamatan infrastruktur publik. Berdasarkan koordinasi antara Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dengan Presiden Prabowo, pemerintah menyepakati alokasi dana khusus transportasi.
Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp4 triliun khusus untuk memperbaiki pintu perlintasan kereta api di seluruh Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari integrasi penguatan ekonomi nasional dengan peningkatan standar keamanan bagi masyarakat pengguna jalur darat.
Dampak Strategis bagi Masyarakat
Proyek Hilirisasi Tahap II diproyeksikan memberikan dampak nyata bagi stabilitas ekonomi nasional:
Stabilitas Harga: Penurunan impor bensin dan LPG menjaga harga energi domestik tetap terkendali.
Pemerataan Ekonomi: Pembangunan di wilayah Papua dan NTT bertujuan memperkecil kesenjangan harga antarwilayah.
Lapangan Kerja: Serapan tenaga kerja masif di Morowali, Gresik, hingga Sei Mangkei akan menggerakkan ekonomi akar rumput.
*(Drw)













