Dampak Program Tetap Berjalan Saat Ramadan, Kebijakan Internal Lembaga Dinilai Polemik

BGN Klarifikasi Isu Siswa Dikeluarkan Terkait Makan Gratis
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana/(instagram)

Faktamanado.id — Nama Dadan Hindayana kembali menjadi perhatian publik setelah Presiden RI Prabowo Subianto memutuskan untuk melakukan perombakan besar dan mengganti kepemimpinan di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN). Sebelum keputusan pencopotan tersebut resmi diketok, sejumlah pernyataan kontroversial serta arah kebijakan operasional yang berkaitan dengan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sempat memicu polemik dan perdebatan luas di tengah masyarakat.

Berbagai isu miring yang mencuat di ruang publik mencakup anjuran konsumsi susu harian, polemik pengawasan mutu kualitas makanan di lapangan, hingga rencana perluasan jangkauan program ke luar negeri.

Anjuran Susu Dua Liter Hingga Isu Keracunan Massal

Salah satu pernyataan Dadan yang paling ramai diperbincangkan terjadi pada Mei 2025 di Bangkalan, Jawa Timur. Saat itu, ia secara terbuka mengaitkan konsumsi susu hingga dua liter per hari dengan pertumbuhan tinggi badan ideal berdasarkan pengalaman pribadi keluarganya. Gestur ini langsung memanen kritik tajam dari para pengamat karena dianggap kurang sensitif dan tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi riil sebagian besar lapisan masyarakat bawah.

Sorotan tajam lain yang menggerus tingkat kepercayaan publik muncul dari pelaksanaan operasional harian MBG, terutama pasca mencuatnya laporan dugaan kasus keracunan makanan di beberapa daerah. Polemik ini kian bertambah runyam ketika Kepala BPOM, Taruna Ikrar, secara blak-blakan menjelaskan bahwa lembaganya sama sekali tidak dilibatkan langsung dalam pengawasan standar operasional dapur maupun kelaikan hidangan makanan program tersebut.

Sorotan Anggaran Motor Trail Hingga Konferensi Daring Rp5,7 Miliar

Selain masalah mutu makanan, publik dan aktivis anggaran turut menyoroti pos pengadaan logistik BGN yang dinilai fantastis. Beberapa poin anggaran yang menjadi bahan diskusi hangat di antaranya:

  • Pengadaan Motor Trail Listrik: Pembelian unit kendaraan operasional lapangan yang disebut-sebut bernilai sekitar Rp42 juta hingga Rp56,8 juta per unit.

  • Langganan Konferensi Daring: Alokasi dana sebesar Rp5,7 miliar khusus untuk kebutuhan April–Desember 2026.

Dadan sempat membela diri dan menjelaskan bahwa dana miliaran tersebut digunakan untuk membangun sistem enterprise terpusat demi mendukung mobilitas sekitar 5.000 pengguna aktif serta mampu menampung hingga 50.000 peserta.

Kontroversi pelengkap lainnya muncul ke permukaan saat kebijakan operasional MBG diputuskan tetap berjalan selama bulan suci Ramadan 2025, serta manuver Dadan yang mengungkap rencana perluasan jangkauan program gizi ke sekolah-sekolah Indonesia di Jeddah, Arab Saudi. Menurut berbagai laporan media nasional, rentetan rapor merah dan isu beruntun inilah yang disinyalir menjadi pemantik utama terjadinya pergantian pimpinan BGN pada Juni 2026.

*(Drw)