Faktamanado.id – Di tengah dinamika ekonomi dunia yang tak menentu, sinyal stabilitas fiskal menjadi harga mati bagi Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit APBN tetap berada di bawah batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pernyataan tegas ini disampaikan pada Selasa (21/4/2026) sebagai bentuk jaminan kepada para investor global bahwa pengelolaan keuangan negara berada di tangan yang profesional dan terukur. Langkah ini krusial untuk mempertahankan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan geopolitik dan volatilitas harga energi dunia.
Pesan Kuat di Forum IMF-World Bank Washington
Dalam forum Spring Meeting IMF-World Bank 2026 di Washington baru-baru ini, Purbaya menekankan bahwa angka defisit bukan sekadar target matematis. Angka tersebut adalah cermin keseriusan pemerintah Indonesia dalam menjalankan mandat Undang-Undang Keuangan Negara secara konsisten.
Dengan menjaga disiplin anggaran, Indonesia mengirimkan pesan kuat kepada pasar dunia bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kokoh. Kebijakan ini selaras dengan arahan langsung dari Presiden untuk memastikan keberlanjutan fiskal jangka panjang tanpa mengorbankan program-program pembangunan strategis.
Penguatan Cash Management Sebagai “Napas” Pembangunan
Selain fokus pada defisit, prioritas utama Kemenkeu saat ini adalah penguatan cash management. Purbaya menyadari bahwa aliran dana tunai yang lancar adalah instrumen utama bagi kelancaran pembangunan nasional. Sejak menjabat pada 8 September 2025, ia konsisten melakukan perbaikan struktural guna memangkas inefisiensi birokrasi anggaran.
Menurutnya, data akurat dan eksekusi nyata adalah senjata utama dalam menghadapi skeptisisme publik maupun investor. Melalui transparansi pengelolaan kas negara, pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan dapat dipacu lebih cepat, sekaligus memberikan bantalan yang cukup bagi ketahanan ekonomi domestik di masa depan.
*(Drw)









