Faktamanado.id — Laju pergerakan indeks acuan pasar modal domestik terpaksa bergeser ke zona merah pada akhir sesi transaksi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi minor pada penutupan sesi perdagangan, Rabu (17/6/2026). Indeks utama bursa efek nasional tersebut melorot sebesar 0,55 persen dan berakhir di posisi level 6.220,74.
Rantai pergerakan pasar saham sepanjang hari bergulir terlihat bergerak cukup volatil dengan volume perputaran dana yang tebal. Total nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaporkan sukses mencapai angka Rp24,70 triliun. Secara komposisi sektoral, sebanyak 391 emiten terpaksa mencatatkan pelemahan harga saham, sementara 288 emiten lainnya masih berhasil bertahan melaju di zona hijau.
Meskipun laju grafik IHSG secara umum sedang berada di bawah tekanan sentimen pasar global, antusiasme para investor portofolio internasional tampak sama sekali tidak surut. Berdasarkan tabulasi data perdagangan resmi, kelompok investor asing justru secara agresif memanfaatkan momentum koreksi ini dengan membukukan aksi pembelian bersih (net foreign buy) yang bernilai sangat signifikan, yakni mencapai total Rp2,51 triliun di seluruh papan pasar modal.
Modal Asing Mengalir Jumbo Lewat Transaksi Pasar Negosiasi dan Pasar Tunai
Jika dibedah secara struktural, perburuan aset saham oleh pemodal global ini paling masif dieksekusi melalui jalur belakang reguler. Khusus di kompartemen pasar negosiasi dan pasar tunai, akumulasi nilai beli bersih pemegang modal asing tersebut dilaporkan sukses menembus level Rp2,84 triliun.
Aksi beli jumbo di pasar nonreguler tersebut secara otomatis menutupi tekanan jual yang sempat dilepaskan oleh asing di pasar utama. Pada pasar reguler harian, kelompok investor luar negeri memang tercatat melakukan aksi penjualan bersih (net foreign sell) dengan nilai logistik finansial mencapai sebesar Rp328,73 miliar.
Deretan arus modal asing (capital inflow) yang masuk secara jumbo ke lantai bursa ini menjadi sinyalemen ekonomi yang kuat bahwa para pelaku pasar global masih memiliki pandangan dan prospek positif jangka panjang terhadap fundamental aset-aset perusahaan tercatat tertentu di Bursa Efek Indonesia, terlepas dari adanya fluktuasi harian indeks yang sedang terjadi.
*(Drw)









