Faktamanado.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, meluruskan informasi yang beredar terkait kemampuan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional yang disebut hanya cukup untuk 20 hari akibat dampak ketegangan di Timur Tengah. Bahlil menegaskan bahwa kapasitas tersebut bukanlah tanda kondisi darurat, melainkan cerminan dari daya tampung (storage) yang dimiliki Indonesia selama ini.
“Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari,” ujar Bahlil di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Kapasitas Tangki Penyimpanan Menjadi Kendala
Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN), rata-rata ketahanan stok BBM nasional saat ini berada di level 22 hingga 23 hari. Bahlil menjelaskan bahwa keterbatasan tersebut bukan disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan pasokan, melainkan karena infrastruktur tangki penyimpanan yang belum mencukupi untuk menampung cadangan yang lebih besar.
Ia meminta agar pemberitaan terkait stok BBM tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Fokus persoalan saat ini terletak pada kebutuhan pembangunan infrastruktur penyimpanan yang lebih luas, bukan pada ketersediaan energi itu sendiri.
Arahan Presiden Prabowo untuk Cadangan 3 Bulan
Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kini tengah mengupayakan percepatan pembangunan fasilitas storage untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Bahlil mengungkapkan bahwa target kapasitas cadangan energi masa depan diharapkan mampu mencapai hingga tiga bulan, sesuai dengan konsensus global.
“Arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kepada kami untuk segera membangun storage supaya ketahanan energi kita ada. Storage-nya berapa lama? Insyaallah rencana sampai dengan 3 bulan,” pungkasnya. Langkah strategis ini diharapkan menjadi fondasi bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik serta fluktuasi pasokan energi dunia di masa mendatang.
(*Drw)









