Faktamanado.id – Pasar logam mulia saat ini tengah berada dalam tekanan besar seiring dengan memanasnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Harga emas spot tercatat melemah 0,4 persen menjadi 4.654,99 Dolar AS per ons pada penutupan perdagangan Senin (6/4/2026). Koreksi ini mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap ancaman militer Amerika Serikat di jalur maritim paling vital di dunia, Selat Hormuz.
Ketegangan memuncak setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras bahwa Teheran akan menghadapi konsekuensi besar jika tidak segera membuka akses Selat Hormuz. Ancaman untuk “menghujani neraka” ke Iran membuat pelaku pasar khawatir akan gangguan pasokan energi global yang dapat memicu ketidakpastian ekonomi jangka panjang.
Dampak Blokade dan Reaksi Pasar Komoditas
Meskipun pihak Iran menyatakan keinginan untuk mengakhiri konflik, mereka tetap bersikeras menolak skema gencatan senjata sementara yang diajukan oleh Washington. Ketidakpastian ini berdampak langsung pada komoditas lainnya; perak spot turun ke level 72,81 Dolar AS, sementara Paladium merosot tajam 1,1 persen ke posisi 1.487,22 Dolar AS per ons.
Pengamat komoditas menilai bahwa jika konflik ini berlarut-larut, harga minyak akan terus meroket dan memicu inflasi global yang masif. Kondisi ini diprediksi akan menyulitkan Federal Reserve (The Fed) untuk mengambil langkah pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, mengingat risiko inflasi yang kembali menghantui ekonomi Amerika Serikat.
Fokus pada Risalah The Fed dan Data PCE
Pasar kini dalam posisi menunggu rilis Risalah rapat kebijakan The Fed yang dijadwalkan pada Rabu mendatang. Selain itu, data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada Kamis menjadi indikator krusial yang sangat dinantikan oleh para pelaku pasar untuk menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.
Jika data inflasi tetap tinggi, emas kemungkinan akan menghadapi tekanan jual lebih lanjut. Namun, jika eskalasi militer benar-benar terjadi di Selat Hormuz, status emas sebagai safe haven diprediksi akan kembali menguat dan membalikkan tren koreksi saat ini menjadi lonjakan harga yang signifikan di pasar internasional.
*(Drw)











