Faktamanado.id, EKONOMI – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons tegas terhadap penilaian negatif yang dirilis oleh lembaga pemeringkat internasional, Moody’s. Menkeu menilai pandangan tersebut tidak relevan dengan data lapangan yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat stabil.
Purbaya bahkan secara terang-terangan menyebut penilaian tersebut sebagai tindakan yang “offside”. Menurutnya, Moody’s telah mengabaikan realitas pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 yang mencapai angka impresif sebesar 5,39 persen, Jumat (13/2/2026).
Performa Indonesia di Jalur Hijau G20
Dibandingkan dengan negara-negara anggota G20 lainnya, performa ekonomi Indonesia tetap berada di koridor positif dengan akumulasi tahunan sebesar 5,11 persen. Hal ini berbanding terbalik dengan kekhawatiran Moody’s, di mana lembaga besar seperti IMF dan JP Morgan justru merevisi naik proyeksi pertumbuhan mereka terhadap Indonesia.
Optimisme ini membuat pemerintah tetap berambisi mengejar target pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen. Strategi yang disiapkan mencakup berbagai skema stimulus investasi serta penguatan pasar domestik untuk membentengi ekonomi nasional dari ketidakpastian global.
OJK: Sektor Perbankan Tetap Kokoh
Senada dengan bendahara negara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bahwa revisi outlook dari Moody’s tidak akan mengganggu stabilitas industri keuangan tanah air. Fondasi perbankan Indonesia dinilai terlalu kuat untuk goyah hanya karena sentimen lembaga pemeringkat.
Kondisi permodalan bank-bank raksasa nasional seperti Mandiri, BRI, hingga BCA berada dalam posisi yang sangat kokoh dengan likuiditas yang melimpah. Indikator kesehatan perbankan terlihat dari:
Rasio NPL (Non-Performing Loan): Berada di angka yang sangat sehat, yakni 0,79 persen.
Bantalan Modal: Memiliki cadangan yang kuat untuk menghadapi gejolak pasar global.
Dengan parameter tersebut, pemerintah dan otoritas keuangan menghimbau pelaku pasar untuk tetap tenang dan melihat data fundamental yang nyata di lapangan dibandingkan terjebak pada narasi sentimen negatif luar negeri.
(*Drw)













