Faktamanado.id, EKONOMI – PT Pertamina (Persero) resmi memulai babak baru dalam pembangunan infrastruktur energi nasional melalui inisiasi Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon. Sebagai fasilitas vital yang memasok hampir 40 persen kebutuhan LPG nasional, transformasi ini menjadi langkah konkret menuju operasional rendah karbon.
Strategi ini menjadi bukti nyata bahwa ketahanan energi Indonesia kini berjalan selaras dengan standar global Environmental, Social, and Governance (ESG). Transformasi di Tanjung Sekong bukan sekadar pergantian label, melainkan perombakan total sistem operasional agar lebih efisien dan ramah lingkungan.
Delapan Pilar Keberlanjutan dan Ekonomi Sirkular
Green Terminal Tanjung Sekong menerapkan pendekatan menyeluruh yang mencakup delapan pilar keberlanjutan. Mulai dari digitalisasi sistem manajemen lingkungan hingga penerapan ekonomi sirkular, Pertamina memastikan infrastruktur inti mereka bekerja dengan dampak ekologis seminimal mungkin.
Langkah ini merupakan bagian krusial dari Roadmap Net Zero Emission (NZE) 2060. Dengan kapasitas penyimpanan mencapai 98.000 metrik ton, modernisasi di fasilitas ini menjamin stabilitas pasokan energi rumah tangga tetap aman sembari menekan jejak karbon operasional.
Terobosan Green Hydrogen dari Panas Bumi
Salah satu inovasi paling progresif dalam proyek ini adalah pemanfaatan Green Hydrogen (Hidrogen Hijau). Melalui sinergi antara PGE, Elnusa Petrofin, dan Pertamina Energy Terminal (PET), hidrogen hijau yang bersumber dari panas bumi Ulubelu kini digunakan sebagai sumber listrik di Tanjung Sekong.
Inovasi ini ditargetkan mampu memangkas emisi Scope 2 secara signifikan dengan memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional terminal. Bagi investor dan pelaku industri, efisiensi ini merupakan sinyal positif dalam pengelolaan risiko jangka panjang serta pengurangan ketergantungan pada energi konvensional.
Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan bahwa model Green Terminal ini akan menjadi referensi bagi terminal energi lainnya di masa depan.
“Melalui koordinasi dengan Danantara, Pertamina terus memperkuat kedaulatan energi nasional yang berorientasi pada pelayanan publik dan keberlanjutan usaha,” pungkasnya, Kamis (12/2/2026).
(*Drw)













